Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015

Peran Muslimah dalam Islam

Bismillahirrahmanirrahim

Sangat mulialah seorang wanita, yang bisa mengantarkan orang tua, suaminya ke Surga-NYA, dan surga terletak di kakinya ketika menjadi seorang Ibu


1. Peran Muslimah sebagai Hamba Allah
Setiap manusia, baik wanita maupun laki-laki mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT. menyampaikan kebaikan-kebaikan (berdakwah), dan memberikan manfaat serta safaat untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.


Tanggung jawab setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan adalah sama di hadapan Allah SWT.

"Adapun orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain " (Q. S. At-Taubah:72)

Antara wanita dan laki-laki saling tolong-menolong, sehingga terciptalah suatu keseimbangan di muka bumi.

" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman maka mereka itu masuk surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit." (Q. S. An-Nisa:124)

Oleh karena itu, antara perempuan dan laki-laki mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah SWT., perbedaannya hanya terletak pada kualitas Taqwa masing-masing, maka tidak baik jika mempunyai pandangan negatif satu sama lain.

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada yang mereka usahakan dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka usahakan" (Q.S. An-Nisa:32).

2. Peran Muslimah sebagai Anak
Peran seorang anak (baik laki-laki maupun perempuan), antara lain:
a. Berbuat baik terhadap orang tua 
    "Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah sesuatu kecuali kepadaNya, dan terhadap kedua orang tua harus berlaku baik, pada waktu salah seorang dari mereka atau keduanya sampi berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kau berkata "Cih/ah" kepada keduanya, dan berkatalah kepada keduanya dengan kata-kata yang lunak, lemah lembut dan sopan. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik aku waktu kecil" (QS 17:23-24) 

b. Tidak durhaka kepada orang tua 
    Abdullah bin Amru bin Al'Ash ra, dari Rasulullah bersabda: "Dosa-dosa besar ialah: Menyekutukan Allah, dan durhaka pada kedua ayah-ibu dan membunuh manusia dan sumpah palsu" (HR. Bukhari) 

c. Berbakti setelah keduanya meninggal 
    Abu  Usaid (Malik) bin Rabi'ah Assa'iddy ra berkata: Ketika kami duduk di sisi Rasulullah SAW, mendadak datang seseorang dari bani Salimah dan bertanya: Apakah masih ada jalan untuk berbakti kepada kedua orang tua sesudah meninggal keduanya? Jawab Nabi: Ya, men-sholatkan atasnya, dan membacakan istigfar untuk keduanya, dan melaksanakan wasiatnya, dan menghubungi keluarga yang tidak dapat dihubungi, melainkan karena keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya (HR Abu Daud).


3. Peran Muslimah sebagai Ibu 
Ibu adalah madrasah pertama seorang anak. Sebagai Ibu yang baik, seorang muslimah harus mempunyai ilmu yang mencukupi untuk mendidik anaknya terutama ilmu tentang Agama Islam yang meliputi ilmu Aqidah, ilmu ibadah dan ilmu akhlak sedari masa mengandung. Seorang ibu harus membiasakan diri sesuai dengan syariat Islam sehingga seorang anak bisa mencontoh untuk menerapkan hal tersebut ketika sudah besar. Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang Shaleh- Shaliha, sedangkan kita tidak mampu memberikan tauladan yang baik


4. Peran Muslimah Sebagai Istri (Dikutip dari muslim.or.id)
Ketika seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istri lah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istri lah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istri lah yang dapat menyemangatinya.

Sungguh, tidak ada yang mempunyai pengaruh terbesar bagi seorang suami melainkan sang istri yang dicintainya.
Mengenai hal ini, contohlah apa yang dilakukan oleh teladan kaum Muslimah, Khadijah Radiyallahu anha dalam mendampingi Rasulullah di masa awal kenabiannya. Ketika Rasulullah merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya, dan merasa kesulitan, lantas apa yang dikatakan Khadijah kepadanya?
“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tidak ada pangkat tertinggi melainkan pangkat seorang Nabi, dan tidak ada ujian yang paling berat selain ujian menjadi seorang Nabi. Untuk itu, tidak ada obat penenang bagi Rasulullah dalam mengemban amanah nubuwahnya melainkan istri yang sangat dicintainya. Sampai-sampai ketika Aisyah cemburu kepada Khadijah, dan berkata “Kenapa engkau sering menyebut perempuan berpipi merah itu, padahal Allah telah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik?” Lantas Rasulullah marah dan bersabda: “Bagaimana engkau berkata demikian?  Sungguh dia beriman kepadaku pada saat orang-orang menolakku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mendermakan seluruh hartanya untukku pada saat semua orang menolak mambantuku, dan Allah memberiku rizki darinya berupa keturunan.” (HR Ahmad dengan Sanad yang Hasan)

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada Khadijah, dan demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulitnya.
Inilah peran yang seharusnya dilakukan bagi seorang wanita. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan wanita, akan tetapi menjadi pendamping seorang pemimpin yang dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Allahu'alam Bishowab

Rabu, 25 Februari 2015

Sahabat (sebenarnya)

Semakin banyak kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang, maka semakin banyak teman di sekitar kita. Mencoba menyesuaikan diri dengan mereka tanpa terpengaruh dengan sifat-sifat buruknya, bahkan kita mencoba saling membantu untuk memperbaiki kekurangan masing-masing. Semakin sering kita berinterasi, semakin tau sifat-sifatnya, semakin tau cerita dalam hidupnya maka semakin besar rasa nyaman yang muncul diantara kamu dan orang tersebut. 

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah Sahabat-sahabat mu’minmu, karena mereka memiliki Syafa’at pd hari kiamat”.

Apalagi kalau pernah satu tempat tinggal (cewe-cewe atau cowo-cowo) karena sama-sama perantau. Semakin banyak kamu tau kebiasaannya sehari-hari dari mulai pagi sampai malam hari. Semakin lama rasa sayang antara sahabat tersebut akan terus tumbuh dan saling memberi perhatian, mengingatkan pada kebaikan, dan menegur (dengan cara yang baik) jika ia melakukan kesalahan.

Imam syafi’i berkata: “Jika engkau punya teman - yg selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali".
Persahabatan itu tidak bisa hanya dilihat dari seberapa kamu menjalin persahabatan tersebut. Tetapi persahabatan yang baik adalah ketika kamu senang, ia ikut senang; ketika kamu sedih, ia ikut sedih; begitu juga sebaliknya. Bukan malah memendam keirian ketika ia senang, membicarakan keburukannya ketika kamu tidak bersama ia. Sahabat yang baik adalah orang yang tidak pernah membiarkanmu menderita, tetapi ia selalu menyemangatimu untuk terus bangkit dan maju.

"Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)" (H.R. Bukhari)

Sahabat yang baik bukanlah orang yang sering menyalahimu, tetapi selalu merangkulmu, memahami apa yang kamu rasakan, dan perlahan meluruskan sikapmu ketika kamu salah. Ketika kalian saling marahan karena suatu hal, cobalah saling memahami, mengalah untuk mempertahankan persahabatan itu, dan jangan sampai emosi menghapus persaudaraan dalam kehangatan persahabatan kalian.

Wallahu'alam Bishowab


Rabu, 04 Februari 2015

Pentingnya Tabayyun (Konfirmasi)

Catatan ini menjadi pengingat untuk diri Saya sendiri supaya membiasakan Tabayyun sebelum berprasangka


"Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran" (Q.S. An-Najm:28).


Kita tak akan mampu membendung pembicaraan orang lain terhadap kita, baik itu pembicaraan yang benar atau mungkin hanya prasangka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Ketika seseorang mendengarkan suatu berita, orang tersebut cenderung untuk berprasangka, apalagi kalau beritanya adalah hal yang buruk. Jika beritanya benar, namanya Ghibah, jika salah namanya fitnah. Nauzubillah mindzalik. Alangkah baiknya, ketika kita mendengarkan suatu berita jangan langsung mengambil kesimpulan atas prasangka-prasangka kita.Tidak semua berita harus kita dengar dan kita baca, khususnya berita yang membahas aib dan membahayakan pikiran. Tidak terburu-buru dalam menanggapi berita, akan tetapi diperlukan tabayyun dan pelan-pelan dalam menelusurinya.

Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“التاني من الله والعجلّة من الشيطان”

“Pelan-pelan itu dari Alloh, sedangkan terburu-buru itu dari setan.” (Musnad Abu Ya’la: 7/247, dishohihkan oleh al-Albani: 4/404)


Al-Imam Hasan al-Bashri rahimahulloh berkata: “Orang mukmin itu pelan-pelan sehingga jelas perkaranya.”[4]

Syaikh Sholih Fauzan hafidzahullah berkata: ”Hendaknya kita pelan-pelan dalam menanggapi suatu perkataan, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa menghukumi orang, hendaknya tabayyun. Sebagaimana firman Alloh ‘Azza wa Jalla dalam QS. al-Hujurot[49]: 6 dan QS. an-Nisa[4]: 94.” (al-Muntaqo min Fatawa al-Fauzan: 3/25)




Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ايّاكم والظنّ فانّ الظنّ اكذب الحديث

“Jauhilah dirimu dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Al-Bukhori: 5144)




 "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat: 6)


Oleh karena itu sangat diperlukannya Tabayyun/konfirmasi. Sebaiknya sebagai seorang muslim, kita harus selalu berpikir yang positif dan tidak terbawa dengan berita yang kita dengar. Jika berita/ masalahnya sangat penting dan kita berniat agar berita tersebut tidak menyebar terlalu jauh, sebaiknya kita mengkonfirmasi langsung ke yang bersangkutan. Ya tentu saja dengan memperhatikan penyampaian ke yang bersangkutan. Khawatirnya menyinggung perasaan beliau. 

Wallahu A'lam Bishawab




Senin, 05 Januari 2015

Ahamiyatu Syahadat'ain (Urgensi Syahadat)


Dalam dua kalimat syahad tercakup tiga Aspek, yaitu:
1. Kesaksian tiada Tuhan selain Allah SWT
2. Kesaksian bahwa Rasulullah adalah utusan Allah
3. Islam

Ahamiyatu Syahadat'ain( Pentingnya syahadat'ain) diantaranya:

  1.  Madkhol ila Islam (pintu masuk ke dalam Islam)
  • Sahnya iman seseorang adalah dengan menyebutkan syahadatain
  • Kesempurnaan iman seseorang bergantung kepada pemahaman dan pengamalan syahadatain
  • Syahadatain membedakan manusia kepada muslim dan kafir
  • Dalil
    • Hadits: Rasulullah SAW memerintahkan Mu'az bin Jabal untuk mengajarkan dua kalimat syahadah, sebelum ajaran lainnya
    • Hadits: Pernyataan Rasulullah SAW tentang misi Laailaha illa Llah dan kewajiban manusia untuk menerimanya
    • QS: 47:19, Pentingnya mengerti, memahami, dan melaksanakan syahadatain. Manusia berdosa akibat melalaikan pemahaman dan pelaksanaan syahadatain
    • QS: 37:35, Manusia menjadi kafir karena menyombongkan diri terhadap Laa ilaha illa Llah
    • QS: 7:172, Manusia bersyahadah di alam arwah sehingga fitrah manusia mengakui keesaan Allah. Ini perlu disempurnakan dengan syahadatain sesuai ajaran Islam
2. Kholaso ta'lim Islam (kefahaman muslim terhadap Islam)
  • Kefahaman muslim terhadap Islam bergantung kepada kefahamannya terhadap syahadatain. Seluruh ajaran Islam terdapat dalam dua kalimat syahadat
  • Ada 3 hal prinsip syahadatain: (1) Pernyataan Laa ilaha illa-Llah merupakan penerimaan penghambaan atau ibadah kepada Allah semata. (2). Menyebut  Rasulullah adalah tauladan dalam mengikuti MinhajilLah. (3). Penghambaan kepada Allah meliputi seluruh aspek kehidupan. 
  • Dalil
    • QS: 2:21, 51:56, Ma'na Laailaha illa-Llah adalah penghambaan kepada Allah. 21:25, Rasul diutus dengan membawa ajaran tauhid.
    • QS: 33:21, Muhammad SAW adalah tauladan dalam setiap aspek kehidupan. 3: 31, aktifiti hidup hendaknya mengikuti ajaran Muhammad SAW.
    • QS: 6:162, Seluruh aktiviti hidup manusia secara individu, masyarakat dan negara mesti ditujukan kepada mengabdi Allah SWT sahaja, 3: 19, 3:85, 45:18, 6:153, Islam adalah satu-satunya syariat yang diredhai Allah. Tidak dapat dicampur dengan syariat lainnya
3. Asasul Inqilab (dasar-dasar perubahan)
  • Syahadatain mampu merubah manusia dalam aspek keyakinan, pemikiran, mahupun jalan hidupnya. Perubahan meliputi berbagai aspek kehidupan manusia secara individu atau masyarakat.
  • Ada perbezaan penerimaan syahadatain pada generasi pertama umat Muhammad dengan generasi sekarang. Perbezaan tersebut disebabkan kefahaman terhadap makna syahadatain secara bahasa dan pengertian, sikap konsisten terhadap syahadah tersebut dalam pelaksanaan ketika menerima mahupun menolak.
  • Umat terdahulu langsung berubah ketika menerima syahadatain. Sehingga mereka yang tadinya bodoh menjadi pandai, yang kufur menjadi beriman, yang bergelimang dalam maksiat menjadi taqwa dan abid, yang sesat mendapat hidayah. Masyarakat yang tadinya bermusuhan menjadi bersaudara di jalan Allah.
  • Syahadatain dapat merubah masyarakat dahulu maka syahadatain pun dapat merubah umat sekarang menjadi baik.
Dalil
  • QS: 6:122, Penggambaran Allah tentang perubahan yang terjadi pada para sahabat Nabi, yang dahulunya berada dalam kegelapan jahiliyah kemudian berada dalam cahaya Islam yang gemilang.
  • QS: 33:23, Perubahan individu contohnya terjadi pada Mus'ab bin Umair yang sebelum mengikuti dakwah rasul merupakan pemuda yang paling terkenal dengan kehidupan glamour di kota Mekkah tetapi setelah menerima Islam, ia menjadi pemuda sederhana yang da'i, duta rasul untuk kota Madinah. Kemudian menjadi syuhada Uhud. Saat syahidnya rasulullah membacakan ayat ini.
  • QS: 37:35 - 37, reaksi masyarakat Qurays terhadap kalimah tauhid 85:6 - 10, Reaksi musuh terhadap keimanan kaum mukminin terhadap Allah 18:2, 8:30, Musuh memerangi mereka yang konsisten dengan pernyataan Tauhid.
  • Hadits: Laa ilaaha ilaLlah kalimat yang dibenci penguasa zalim dan kerajaan.
  • Hadits: Mereka yang konsisten dengan syahadatain akan menang dan mereka yang memusuhinya akan kalah dan hancur.
  • Hadits: Janji rasul bahwa kalimat tauhid akan memuliakan kaumnya
4. Hakikat Dakwah Rasulullah
Yang didakwahkan Rasulullah adalah Tauhid kepada Allah dengan metode: Rasulullah sebagai Tauladan dalam merealisasikan Ibadah kepada Allah SWT

  • Kandungan Syahada'ain
  1. Ikrar (Iqrar) : Q.S. Ali-Imran: 18; 81
  2. Sumpah (Al-qosam): Q.S. An-nisa: 138; Q.S. 63:1-2
  3. Perjanjian : Q.S Al-Maidah: 7

Jumat, 02 Januari 2015

Ketika kita Berdoa

Doa merupakan salah satu bentuk komunikasi kita kepada Sang pencipta, Allah SWT.

Allah SWT. berfirman:
"... Dan Rabbmu berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, nisaya akan Ku perkenankan bagimu'. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk ke neraka jahannam dalam keadaan hina-dina"(Q.S. Ghafir:60)

Waktu yang baik untuk berdoa
Hendaknya doa diucapkan pada waktu-waktu yang mulia, seperti Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, dan waktu sahur. Hendaknya juga dijaga keadaan-keadaan yang mulia, seperti ketika turun hujan, dalam barisan peperangan di jalan Allah, dan ketika sujud. Sebagaimana Hadist Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw., bahwa beliau bersabda:
"Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia dalam keadaan sujud, karena itu perbanyaklah doa" (H.R. Muslim).

Jangan pernah ragu dengan kekuatan Doa dan kebesaran Allah SWT.
kalo zaman KKN dulu, ada salah satu temen liat notes Saya di handphone yang isinya Impian Saya beserta tahun-tahun target pencapaian. Waktu saya buka lagi notes itu, ternyata diam-diam dia mengganti tahun-tahun target pencapaian yang saya buat dengan waktu yang lebih dipercepat. Di bawah notes itu dia sisipkan kata-kata: "Nin, kalo berdoa jangan tanggung-tanggung. Allah pasti akan ngasih yang terbaik"
Kata-kata itu selalu terngiang dalam pikiran Saya. Masya Allah. Semoga itu menjadi motivasi Saya untuk lebih baik dan selalu semangat.

Yaa, jangan pernah ragu dengan doa yang kita panjatkan dan jangan sekali-kali berucap "Aku sudah berdoa, tapi tidak dikabulkan".


Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:' Setiap doa yang kalian panjatkan akan diterima selama tidak tergesa-gesa, yang ia berkata, 'Aku sudah berdoa, tetapi tidak dikabulkan". (H.R. Bukhari).

Jangan pernah berputus asa dengan ikhtiar yang sudah Kamu lakukan dan jangan pernah lelah untuk berdoa. Berserah dirilah kepada-NYA dan gantungkan semua harapmu hanya kepada Allah SWT.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri, sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersabda: "Tidak ada seorang muslim yang berdoa dan di dalamnya tidak ada dosa (syirik) dan tidak pernah memutuskan silaturahim, kecuali Allah memberinya satu dari tiga pilihan, yaitu doanya segera dikabulkan, atau doanya disimpan sebagai tabungan akhirat, atau pun dipalingkan darinya kesalahan yang setara dengan doa yang diucapkannya" (H. R. Hakim).


Dari Mata Turun ke Hati

Seperti judulnya, kali ini Saya akan membahas tentang pengaruh mata (pandangan) terhadap hati seseorang.

Para ahli penyakit hati mengatakan bahwa antara mata dan hati ada celah dan jalan yang menyambungkan keduanya. Apabila rusak matanya, maka hati pun akan menjadi rusak. Pengaruh pandangan akan membawa kepada sikap menganggap baik sesuatu yang dipandangnya, dan terlintaslah apa yang ia padang di dalam hatinya. Oleh karena itu, timbulah penyakit hati. Naudzubillah

Dari buku "Mensucikan Jiwa", dijelaskan bahwa:
* Pandangan adalah salah satu panah iblis. Barangsiapa yang menundukan pandangan karena Allah, maka Allah akan mewariskan kepadanya kemanisan iman, yang akan didapati di dalam hati seseorang hingga ia bertemu Rabb-nya
*Masuknya setan dalam penglihatan seseorang. Proses merusaknya setan terhadap pandangan manusia itu lebih cepat dibanding udara yang masuk ke dalam ruang. Maha Sui Allah. Begitu cepatnya gerak setan dalam merusak manusia
*Pandangan juga bisa menyibukkan hati. Nah loh, maksud dari kata-kata ini simplenya adalah kalo kita memandang dan sampai ke hati, maka akan menimbulkan suatu khayalan dan angan-angan. Hati terus berpikir tentang khayalan tersebut dan pada akhirnya hal-hal baik yang seharusnya dipikirkan malah tidak terpikirkan karena hati sudah sibuk dengan pikiran yang ga baik.

Allah SWT. berfirman:
"Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas" (Q.S. Al-Kahfi[18]: 28)



Kalo dulu pernah ngobrol sama temen tentang ciri-ciri manusia yang sudah dipengaruhi oleh setan angtara lain sangat mudah melamun. Yang katanya galau kalo hujan turun, terus duduk dipinggir jendela sambil ngelamun, hati-hati ya. itu bukan suatu kenikmatan/kebiasaan yang harus dijaga. Mending kalo hujan turun berdoa sebanyak mungkin. Kan di saat hujan turun, adalah waktu berdoa yang baik ^^

Empat Racun Hati

Kali ini akan membahas tentang empat Racun Hati yang dikutip dari Buku "Tazkiyah An-Nafs" karya Syeikh Ahmad Farid

Ibnu Mubarak berkata:
Aku melihat dosa telah mematikan hati
Dan meninggalkan kehinaan
Sedangkan meninggalkan dosa akan menghidupkan hati
Dan membuat jiwa menjadi baik karena meninggalkannya

Subhanallah. Tercabik banget baca kata-kata pertama dari sub bab buku ini

Yaah, perbanyak istighfar dan taubat serta melakukan amalan-amalan baik adalah cara untuk membersihkan hati. Semakin banyak melakukan amalan kebaikan, Insyaa Allah semakin memperkecil kesempatan keburukan datang dalam diri


Dari buku ini menjelaskan ada empat racun hati, yaitu:
1. Banyak Bicara
Ternyata banyak bicara itu bisa mengotori hati dan memang sebaiknya sebagai manusia kita harus pintar menjaga lisan dan lebih perbanyak diam.

Dari Mu'adz, dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda: " Bukankah manusia dicampakkan ke neraka yang paling dalam, karena akibat lisannya?" (H.R. Tirmidzi)

Rasulullah saw. juga bersabda: " Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbicara yang baik, atau hendaklah ia diam" (H.R. Bukhari)

2.Banyak memandang
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi Muhammad saw., beliau bersabda:
"Telah ditetapkan kepada keturunan Adam bagiannya dari zina, dan ia pasti melakukannya. Kedua mata zinanya adalah pandangannya, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lisan zinanya melalui ucapan, tangan zinanya dengan memegang, kaki zinanya adalah melangkah (ke tempat maksiat), dan hati zinanya adalah dengan berangan-angan, dan semua itu dibenarkan atau diingkari oleh kemaluan" (H.R. Bukhari)

3. Banyak Makan
Sedikit makan akan melembutkan hati, menguatkan intelegensi, mengekang nafsu, serta melemahkan syahwat dan amarah. Sedangkan banyak makan akan menciptakan sebaliknya
Mungkin teman-teman sering mendengar, jika Rasulullah ketika berbuka puasa hanya memakan kurma dan beberapa teguk air saja.
Islam mengajarkan kita untuk tidak berlebihan. Termasuk berlebihan dalam makan

Dari Aisyah, ia berkata: "Sejak masuk ke Madinah, keluarga Rasulullah saw. belum pernah merasa kenyang oleh roti gandum selama tiga hari berturut-turut sampai beliau wafat" (H.R. Bukhari)

4. Banyak bergaul
Betapa banyak pergaulan yang hanya dipenuhi dengan kesenangan dan permusuhan bukan?
Oleh karena itu, sebagai insan yang baik, alangkah baiknya jika kita bergaul sesuai dengan kebutuhan, perbanyak menemui dan berkumpul dengan orang Shalih yang bisa selalu membuat kita semakin dekat dengan Allah SWT.

Semoga tulisan ini bermanfaat terutama untuk Saya dan teman-teman semua :)
Insyaa Allah