Sabtu, 14 Maret 2015

2 weeks left

Alhamdulillah. . .
Allah SWT. masih memberikan 2 minggu lagi waktu untuk berlibur, sebelum semua rutinitas ini dimulai. Ya, memulai kehidupan di fase yang baru, yaitu berkarir. Setelah 4 bulan mengikuti 4 tahap seleksi (dengan 3x tes), akhirnya Allah menunjukan jalan-NYA. 6 bulan pasca wisuda, bukan waktu yang sebentar untuk sekedar menunggu. Sudah beberapa tes rekrutmen karyawan saya ikuti, tapi hanya saja disana bukan rexeki saya. Sempat ada tawaran bekerja di suatu perusahaan, tapi ternyata posisinya bukan bidang yang saya dalami selama ini. Bukan sebagai orang yang pemilih dalam bekerja, tapi hanya ingin mencari dan berkarir sesuai apa yang dicintai dan sesuai dengan apa yang telah didalami selama Pendidikan. 

Alhamdulillah
Allah memberikan jalan-NYA
Ini juga tak lepas dari besarnya kekuatan doa Ibu-Bapak
Keinginan mereka, agar saya bisa berkarir di tanah kelahiran ini

Bekerja/ Berkarir bukan tujuan utama
Tapi ini adalah suatu media untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta
Sebagai pengingat, untuk selalu mengingat segala Nikmat dan Karunia-NYA
Sebagai cara, untuk selalu bisa dekat dengan kedua orang tua

Hidup itu memang harus memilih dan menerima setiap resiko dari apa yang kita pilih
Jika ada teman-teman kita yang bekerja jauh dari keluarga, itu bukanlah kesedihan.
Itu adalah nikmat Allah, yang didalamnya terselip banyak kebaikan- kebaikan yang tak terlihat
Itu adalah jalan
Untuk mencari kebahagiaan-kebahagiaan yang lain

Ikhlash. . . dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini
Itu adalah cara terbaik untuk meraih kebahagiaan 

Semangaaat untuk semuanya
Niatkan semua, hidup dan mati hanya untuk Allah SWT. ^^



Rabu, 04 Maret 2015

Peran Muslimah dalam Islam

Bismillahirrahmanirrahim

Sangat mulialah seorang wanita, yang bisa mengantarkan orang tua, suaminya ke Surga-NYA, dan surga terletak di kakinya ketika menjadi seorang Ibu


1. Peran Muslimah sebagai Hamba Allah
Setiap manusia, baik wanita maupun laki-laki mempunyai kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT. menyampaikan kebaikan-kebaikan (berdakwah), dan memberikan manfaat serta safaat untuk orang-orang yang ada di sekitarnya.


Tanggung jawab setiap manusia, baik itu laki-laki maupun perempuan adalah sama di hadapan Allah SWT.

"Adapun orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain " (Q. S. At-Taubah:72)

Antara wanita dan laki-laki saling tolong-menolong, sehingga terciptalah suatu keseimbangan di muka bumi.

" Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman maka mereka itu masuk surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit." (Q. S. An-Nisa:124)

Oleh karena itu, antara perempuan dan laki-laki mempunyai derajat yang sama di hadapan Allah SWT., perbedaannya hanya terletak pada kualitas Taqwa masing-masing, maka tidak baik jika mempunyai pandangan negatif satu sama lain.

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada yang mereka usahakan dan bagi perempuan juga ada bagian dari apa yang mereka usahakan" (Q.S. An-Nisa:32).

2. Peran Muslimah sebagai Anak
Peran seorang anak (baik laki-laki maupun perempuan), antara lain:
a. Berbuat baik terhadap orang tua 
    "Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah sesuatu kecuali kepadaNya, dan terhadap kedua orang tua harus berlaku baik, pada waktu salah seorang dari mereka atau keduanya sampi berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kau berkata "Cih/ah" kepada keduanya, dan berkatalah kepada keduanya dengan kata-kata yang lunak, lemah lembut dan sopan. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidik aku waktu kecil" (QS 17:23-24) 

b. Tidak durhaka kepada orang tua 
    Abdullah bin Amru bin Al'Ash ra, dari Rasulullah bersabda: "Dosa-dosa besar ialah: Menyekutukan Allah, dan durhaka pada kedua ayah-ibu dan membunuh manusia dan sumpah palsu" (HR. Bukhari) 

c. Berbakti setelah keduanya meninggal 
    Abu  Usaid (Malik) bin Rabi'ah Assa'iddy ra berkata: Ketika kami duduk di sisi Rasulullah SAW, mendadak datang seseorang dari bani Salimah dan bertanya: Apakah masih ada jalan untuk berbakti kepada kedua orang tua sesudah meninggal keduanya? Jawab Nabi: Ya, men-sholatkan atasnya, dan membacakan istigfar untuk keduanya, dan melaksanakan wasiatnya, dan menghubungi keluarga yang tidak dapat dihubungi, melainkan karena keduanya, dan menghormati teman-teman keduanya (HR Abu Daud).


3. Peran Muslimah sebagai Ibu 
Ibu adalah madrasah pertama seorang anak. Sebagai Ibu yang baik, seorang muslimah harus mempunyai ilmu yang mencukupi untuk mendidik anaknya terutama ilmu tentang Agama Islam yang meliputi ilmu Aqidah, ilmu ibadah dan ilmu akhlak sedari masa mengandung. Seorang ibu harus membiasakan diri sesuai dengan syariat Islam sehingga seorang anak bisa mencontoh untuk menerapkan hal tersebut ketika sudah besar. Bagaimana mungkin kita menginginkan anak yang Shaleh- Shaliha, sedangkan kita tidak mampu memberikan tauladan yang baik


4. Peran Muslimah Sebagai Istri (Dikutip dari muslim.or.id)
Ketika seorang laki-laki merasa kesulitan, maka sang istri lah yang bisa membantunya. Ketika seorang laki-laki mengalami kegundahan, sang istri lah yang dapat menenangkannya. Dan ketika sang laki-laki mengalami keterpurukan, sang istri lah yang dapat menyemangatinya.

Sungguh, tidak ada yang mempunyai pengaruh terbesar bagi seorang suami melainkan sang istri yang dicintainya.
Mengenai hal ini, contohlah apa yang dilakukan oleh teladan kaum Muslimah, Khadijah Radiyallahu anha dalam mendampingi Rasulullah di masa awal kenabiannya. Ketika Rasulullah merasa ketakutan terhadap wahyu yang diberikan kepadanya, dan merasa kesulitan, lantas apa yang dikatakan Khadijah kepadanya?
“Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Tidak ada pangkat tertinggi melainkan pangkat seorang Nabi, dan tidak ada ujian yang paling berat selain ujian menjadi seorang Nabi. Untuk itu, tidak ada obat penenang bagi Rasulullah dalam mengemban amanah nubuwahnya melainkan istri yang sangat dicintainya. Sampai-sampai ketika Aisyah cemburu kepada Khadijah, dan berkata “Kenapa engkau sering menyebut perempuan berpipi merah itu, padahal Allah telah menggantikannya untukmu dengan yang lebih baik?” Lantas Rasulullah marah dan bersabda: “Bagaimana engkau berkata demikian?  Sungguh dia beriman kepadaku pada saat orang-orang menolakku, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, dia mendermakan seluruh hartanya untukku pada saat semua orang menolak mambantuku, dan Allah memberiku rizki darinya berupa keturunan.” (HR Ahmad dengan Sanad yang Hasan)

Demikianlah kecintaan Rasulullah kepada Khadijah, dan demikianlah seharusnya bagi seorang wanita muslimah di dalam keluarganya. Tidak ada yang diinginkan bagi seorang suami melainkan seorang istri yang dapat menerimanya apa adanya, percaya dan yakin kepadanya dan selalu membantunya ketika sulitnya.
Inilah peran yang seharusnya dilakukan bagi seorang wanita. Menjadi seorang pemimpin bukanlah hal yang perlu dilakukan wanita, akan tetapi menjadi pendamping seorang pemimpin yang dapat membantu, mengarahkan dan menenangkan adalah hal yang sangat mulia jika di dalamnya berisi ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Allahu'alam Bishowab

Rabu, 25 Februari 2015

Sahabat (sebenarnya)

Semakin banyak kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang, maka semakin banyak teman di sekitar kita. Mencoba menyesuaikan diri dengan mereka tanpa terpengaruh dengan sifat-sifat buruknya, bahkan kita mencoba saling membantu untuk memperbaiki kekurangan masing-masing. Semakin sering kita berinterasi, semakin tau sifat-sifatnya, semakin tau cerita dalam hidupnya maka semakin besar rasa nyaman yang muncul diantara kamu dan orang tersebut. 

Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Perbanyaklah Sahabat-sahabat mu’minmu, karena mereka memiliki Syafa’at pd hari kiamat”.

Apalagi kalau pernah satu tempat tinggal (cewe-cewe atau cowo-cowo) karena sama-sama perantau. Semakin banyak kamu tau kebiasaannya sehari-hari dari mulai pagi sampai malam hari. Semakin lama rasa sayang antara sahabat tersebut akan terus tumbuh dan saling memberi perhatian, mengingatkan pada kebaikan, dan menegur (dengan cara yang baik) jika ia melakukan kesalahan.

Imam syafi’i berkata: “Jika engkau punya teman - yg selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karna mencari teman -baik- itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali".
Persahabatan itu tidak bisa hanya dilihat dari seberapa kamu menjalin persahabatan tersebut. Tetapi persahabatan yang baik adalah ketika kamu senang, ia ikut senang; ketika kamu sedih, ia ikut sedih; begitu juga sebaliknya. Bukan malah memendam keirian ketika ia senang, membicarakan keburukannya ketika kamu tidak bersama ia. Sahabat yang baik adalah orang yang tidak pernah membiarkanmu menderita, tetapi ia selalu menyemangatimu untuk terus bangkit dan maju.

"Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)" (H.R. Bukhari)

Sahabat yang baik bukanlah orang yang sering menyalahimu, tetapi selalu merangkulmu, memahami apa yang kamu rasakan, dan perlahan meluruskan sikapmu ketika kamu salah. Ketika kalian saling marahan karena suatu hal, cobalah saling memahami, mengalah untuk mempertahankan persahabatan itu, dan jangan sampai emosi menghapus persaudaraan dalam kehangatan persahabatan kalian.

Wallahu'alam Bishowab


Kamis, 05 Februari 2015

Hujan

Hujan. . .
Kau ajarkan aku akan banyak hal
Ajari aku seperti engkau
Yang bertahan ketika gelap
Yang tak mengeluh ketika terjatuh

Hujan. .
Ingatkan aku akan arti pengorbanan
Ketika menunggu terlihat menarik
Ketika menolak terlihat bertahan
Ketika tak peduli terlihat tak ingin kembali

Sampai pada akhirnya kau bertahan dalam semusim
Kau berikan pelangi setelah kau pergi
Indahnya dirimu
Melihat jejakmu membias terkena mentari
Ketika warna-warni mewarnai birunya hari

Kau hadir dengan setiap rasa syukur di hati
Ketika doa terpanjat menjadi lebih dekat dengan nyata
Ketika karunia-NYA terasa dalam dada
Ya, kali ini bahagiaku bertemu denganmu kembali
dan ku yakin tak akan ada sedih setelah kau pergi
Karena ku yakin  pelangi kan mengganti

Rabu, 04 Februari 2015

Pentingnya Tabayyun (Konfirmasi)

Catatan ini menjadi pengingat untuk diri Saya sendiri supaya membiasakan Tabayyun sebelum berprasangka


"Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang itu. Mereka tak lain hanyalah mengikuti dugaan, dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran" (Q.S. An-Najm:28).


Kita tak akan mampu membendung pembicaraan orang lain terhadap kita, baik itu pembicaraan yang benar atau mungkin hanya prasangka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Ketika seseorang mendengarkan suatu berita, orang tersebut cenderung untuk berprasangka, apalagi kalau beritanya adalah hal yang buruk. Jika beritanya benar, namanya Ghibah, jika salah namanya fitnah. Nauzubillah mindzalik. Alangkah baiknya, ketika kita mendengarkan suatu berita jangan langsung mengambil kesimpulan atas prasangka-prasangka kita.Tidak semua berita harus kita dengar dan kita baca, khususnya berita yang membahas aib dan membahayakan pikiran. Tidak terburu-buru dalam menanggapi berita, akan tetapi diperlukan tabayyun dan pelan-pelan dalam menelusurinya.

Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“التاني من الله والعجلّة من الشيطان”

“Pelan-pelan itu dari Alloh, sedangkan terburu-buru itu dari setan.” (Musnad Abu Ya’la: 7/247, dishohihkan oleh al-Albani: 4/404)


Al-Imam Hasan al-Bashri rahimahulloh berkata: “Orang mukmin itu pelan-pelan sehingga jelas perkaranya.”[4]

Syaikh Sholih Fauzan hafidzahullah berkata: ”Hendaknya kita pelan-pelan dalam menanggapi suatu perkataan, tidak terburu-buru, tidak tergesa-gesa menghukumi orang, hendaknya tabayyun. Sebagaimana firman Alloh ‘Azza wa Jalla dalam QS. al-Hujurot[49]: 6 dan QS. an-Nisa[4]: 94.” (al-Muntaqo min Fatawa al-Fauzan: 3/25)




Rosululloh sallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ايّاكم والظنّ فانّ الظنّ اكذب الحديث

“Jauhilah dirimu dari persangkaan, maka sesungguhnya persangkaan itu sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Al-Bukhori: 5144)




 "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat: 6)


Oleh karena itu sangat diperlukannya Tabayyun/konfirmasi. Sebaiknya sebagai seorang muslim, kita harus selalu berpikir yang positif dan tidak terbawa dengan berita yang kita dengar. Jika berita/ masalahnya sangat penting dan kita berniat agar berita tersebut tidak menyebar terlalu jauh, sebaiknya kita mengkonfirmasi langsung ke yang bersangkutan. Ya tentu saja dengan memperhatikan penyampaian ke yang bersangkutan. Khawatirnya menyinggung perasaan beliau. 

Wallahu A'lam Bishawab