Indah. . .
melihat senyum mempesona dari wajahnya
Mendengar nasihat hangat menyentuh hati
Merasakan cinta yang menguatkan langkah
Ibu, Bapak
Jika ada yang bertanya apa yang membuatku bahagia
Maka dengan lantang ku jawab, "Ibu- bapak"
Manusia istimewa yang Allah beri untukku
Yang selalu mengerti hati ini
Yang membiarkan gadis kecilnya ini memilih apapun
Yang mengganti kata-kata larangan, menjadi kata-kata pertimbangan
Yang mengizinkan segala langkah yang telah ku pilih
Yang memberikan segala hal yang terbaik
Sungguh diri ini tak bisa bersembunyi darimu
Ketika bahagia menghias senyum dalam wajah
Tawa candamu menyambutnya
Ketika sedih menggores di hati
Pundakmu yang hangat menguatkan bersedia memberi sandaran
Ketika semangat yang hampir patah
Disaat itu tanganmu kuat mengenggam jemari ini
Ketika diri ini penuh berharap
Sepasang tanganmu tak henti menengadah untuk berdoa
aku gadis kecilmu yang paling bahagia memilikimu dalam hidupku
Mimpi itu tidak hanya digantungkan tetapi harus dikejar dan kemudian digenggam sehingga mimpi itu bisa dirasakan dengan nyata
Sabtu, 11 April 2015
Sabtu, 28 Maret 2015
Sisi Berbeda
Mengapa engkau tak henti menggerutu
Padahal kau tau, hidup tak sesedih itu
Jika dalam gelap tersembunyi sisi terang
Jika dalam tangis, ada senyum yang terangkat dalam raut muka
Jika dalam sedih, ada bahagia yang akan kau raih
Apakah hidupmu semenyedihkan itu?
Ketika kau hanya mengeluh tanpa rasa syukur
Ketika kebencian membara, tanpa maaf yang mengikhlashkan segalanya
Hidupmu tak sesedih itu
Ada pelangi setelah gelapnya langit
Ada kehangatan mentari setelah derasnya hujan dan angin
Ada rumput menari selepas air membasahi bumi
berhentilah
Karena keluhmu meyakiti hati
Hatimu yang ingin hidup kembali
Apa kau lupaa?
Jika hidupmu lebih baik dari mereka?
Mereka renta dan tak berdaya
Tapi apakah kau lihat mereka marah?
Bibir dan lidahmu terlalu rindu untuk menggerakan rasa syukur
Matamu pun lelah untuk merintih dengan sesuatu yang tak pasti
Izinkanlah. . .
Izinkan hidup dan matimu bahagia dalam indahnya syukur
Padahal kau tau, hidup tak sesedih itu
Jika dalam gelap tersembunyi sisi terang
Jika dalam tangis, ada senyum yang terangkat dalam raut muka
Jika dalam sedih, ada bahagia yang akan kau raih
Apakah hidupmu semenyedihkan itu?
Ketika kau hanya mengeluh tanpa rasa syukur
Ketika kebencian membara, tanpa maaf yang mengikhlashkan segalanya
Hidupmu tak sesedih itu
Ada pelangi setelah gelapnya langit
Ada kehangatan mentari setelah derasnya hujan dan angin
Ada rumput menari selepas air membasahi bumi
berhentilah
Karena keluhmu meyakiti hati
Hatimu yang ingin hidup kembali
Apa kau lupaa?
Jika hidupmu lebih baik dari mereka?
Mereka renta dan tak berdaya
Tapi apakah kau lihat mereka marah?
Bibir dan lidahmu terlalu rindu untuk menggerakan rasa syukur
Matamu pun lelah untuk merintih dengan sesuatu yang tak pasti
Izinkanlah. . .
Izinkan hidup dan matimu bahagia dalam indahnya syukur
Sabtu, 21 Maret 2015
"Hijrah"
Alhamdulillah. . .
Sampai pada hari ini, hampir dipenghujung bulan Maret. Itu tandanya sebentar lagi akan semakin sedikit waktu luang, semakin berkurang pula masa hidup di dunia. Entah kapan akan datangnya, waktu akhir di dunia. Hanya Allah yang tau. Sebagai manusia, hanya bisa berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.
Hijrah. . .
Banyak cara untuk mendapatkan sosok terbaik dalam diri sendiri.
Bisa mengejarnya dengan menuntut ilmu, mencari ilmu dari sumber-sumber yang tepat
Bisa juga datang karena pengalaman pribadi, pengalaman orang lain yang mengandung hikmah besar dalam hidup.
Sadarnya diri ini.
Diri ini lalai di kala kemarin
Diri ini terjebak dalam ruang yang tak baik
Yang hampir menyakiti diri. . .
Hampir saja ketenangan yang sulit dicari, hilang hanya hal yang semu
Astaghfirullah
Manusia tempatnya salah
Termasuk diri ini.
Hijrah. . .
Semua berawal dari pertemuan dengan orang-orang Shalih di kala itu
Di saat diri ini sangat jauh dari tampilan "rapih" dalam menutup aurat
Di saat diri ini masih "bermata kosong" ketika membahas ilmu agama
Di saat diri ini masih belum bisa menahan pada saat berbicara
Di saat diri ini masih mengikuti budaya yang tidak perlu diikuti
Di saat diri masih memberi batas tipis ketika berkomunikasi
Saat itulah diri ini menyadari
Terlalu ambisi kepada kepentingan dunia terlalu melalaikan
Terlalu mengejar mimpi-mimpi, sampai lupa kepada siapa tempat yang pantas untuk "menyerahkan diri"
Hijrah. . .
Sekarang aku menyadari
Betapa bahagia berada dalam ketenangan ini
Ketika semua ku serahkan pada Sang Illahi
Ketika aku tak berambisi berlebih mengejar duniawi
Saat ini, diri ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak salah dan dosa, tapi diri ini ingin menuju Taqwa.
Kepada-NYA. Ibadah, Hidup, dan Mati ini hanya untuk-NYA
Hijrah. . .
Izinkan aku untuk berdiri kuat pada pijakan ini
Istiqomah untuk terus memperbaiki diri
Jangan izinkan ada yang datang untuk melunturkannya
Jangan izinkan sedetik pun diri ini lalai
Hijrah. .
Izinkan Aku bertemu dengan orang-orang pilihan
Orang-orang yang selalu menguatkan pijakan ini
Yang selalu menasihati ketika iman ini turun
Hijrah. . .
Iman manusia naik-turun. . .
Tapi aku mohon, jangan sampai iman ini keluar dari batas wajib dan Sunnah
karena ku tak ingin. .
Ketenangan dan kebahagiaan ini menghilang
Dari orang yang penuh dosa, yang terus mengejar Taqwa Illallahu, Nina Andhini Pratiwi
Sampai pada hari ini, hampir dipenghujung bulan Maret. Itu tandanya sebentar lagi akan semakin sedikit waktu luang, semakin berkurang pula masa hidup di dunia. Entah kapan akan datangnya, waktu akhir di dunia. Hanya Allah yang tau. Sebagai manusia, hanya bisa berusaha untuk menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya.
Hijrah. . .
Banyak cara untuk mendapatkan sosok terbaik dalam diri sendiri.
Bisa mengejarnya dengan menuntut ilmu, mencari ilmu dari sumber-sumber yang tepat
Bisa juga datang karena pengalaman pribadi, pengalaman orang lain yang mengandung hikmah besar dalam hidup.
Sadarnya diri ini.
Diri ini lalai di kala kemarin
Diri ini terjebak dalam ruang yang tak baik
Yang hampir menyakiti diri. . .
Hampir saja ketenangan yang sulit dicari, hilang hanya hal yang semu
Astaghfirullah
Manusia tempatnya salah
Termasuk diri ini.
"Hijrah"
Semua berawal dari pertemuan dengan orang-orang Shalih di kala itu
Di saat diri ini sangat jauh dari tampilan "rapih" dalam menutup aurat
Di saat diri ini masih "bermata kosong" ketika membahas ilmu agama
Di saat diri ini masih belum bisa menahan pada saat berbicara
Di saat diri ini masih mengikuti budaya yang tidak perlu diikuti
Di saat diri masih memberi batas tipis ketika berkomunikasi
Saat itulah diri ini menyadari
Terlalu ambisi kepada kepentingan dunia terlalu melalaikan
Terlalu mengejar mimpi-mimpi, sampai lupa kepada siapa tempat yang pantas untuk "menyerahkan diri"
Hijrah. . .
Sekarang aku menyadari
Betapa bahagia berada dalam ketenangan ini
Ketika semua ku serahkan pada Sang Illahi
Ketika aku tak berambisi berlebih mengejar duniawi
Saat ini, diri ini masih jauh dari kata sempurna, masih banyak salah dan dosa, tapi diri ini ingin menuju Taqwa.
Kepada-NYA. Ibadah, Hidup, dan Mati ini hanya untuk-NYA
Hijrah. . .
Izinkan aku untuk berdiri kuat pada pijakan ini
Istiqomah untuk terus memperbaiki diri
Jangan izinkan ada yang datang untuk melunturkannya
Jangan izinkan sedetik pun diri ini lalai
Hijrah. .
Izinkan Aku bertemu dengan orang-orang pilihan
Orang-orang yang selalu menguatkan pijakan ini
Yang selalu menasihati ketika iman ini turun
Hijrah. . .
Iman manusia naik-turun. . .
Tapi aku mohon, jangan sampai iman ini keluar dari batas wajib dan Sunnah
karena ku tak ingin. .
Ketenangan dan kebahagiaan ini menghilang
Dari orang yang penuh dosa, yang terus mengejar Taqwa Illallahu, Nina Andhini Pratiwi
Selasa, 17 Maret 2015
Karena Dirinya tak Lemah
Ketika hidup mencari kebahagiaan
Ketika kenangan menjadi pembelajaran
Ketika harapan menjadi harapan
Tak inginkah kau bangkit?
Ketika yang lain berlari untuk meraih mimpi-mimpinya
Ketika mereka sibuk memikirkan cara untuk bahagia
Apakah kau tak memikirkannya?
Ataukah kau hanya sosok lemah berhati rapuh
Seperti pohon yang telah mati tersambar petir
Lalu kau lapuk diterjang angin dan derasnya hujan
Apakah tak ada sedikit kekuatan?
Ataukah kau hanya sibuk menjadi penonton kebahagiaan orang lain
Seperti orang yang berlari tanpa tau tujuan dan titik akhir pemberhentian
Kuatlah. . .
Yakinlah. . .
Bertahanlah. . .
dan Bangkitlah. . .
Hidupmu teramat berarti
Yang mungkin tak kau sadari saat ini
Teramat indah hidupmu
Teramat banyak kesempatan menghampiri
Pergilah. . .
Kejarlah. . .
Berdoalah. . .
Karena hidup tak berhenti hanya karena kesedihan
Ketika kenangan menjadi pembelajaran
Ketika harapan menjadi harapan
Tak inginkah kau bangkit?
Ketika yang lain berlari untuk meraih mimpi-mimpinya
Ketika mereka sibuk memikirkan cara untuk bahagia
Apakah kau tak memikirkannya?
Ataukah kau hanya sosok lemah berhati rapuh
Seperti pohon yang telah mati tersambar petir
Lalu kau lapuk diterjang angin dan derasnya hujan
Apakah tak ada sedikit kekuatan?
Ataukah kau hanya sibuk menjadi penonton kebahagiaan orang lain
Seperti orang yang berlari tanpa tau tujuan dan titik akhir pemberhentian
Kuatlah. . .
Yakinlah. . .
Bertahanlah. . .
dan Bangkitlah. . .
Hidupmu teramat berarti
Yang mungkin tak kau sadari saat ini
Teramat indah hidupmu
Teramat banyak kesempatan menghampiri
Pergilah. . .
Kejarlah. . .
Berdoalah. . .
Karena hidup tak berhenti hanya karena kesedihan
Sabtu, 14 Maret 2015
2 weeks left
Alhamdulillah. . .
Allah SWT. masih memberikan 2 minggu lagi waktu untuk berlibur, sebelum semua rutinitas ini dimulai. Ya, memulai kehidupan di fase yang baru, yaitu berkarir. Setelah 4 bulan mengikuti 4 tahap seleksi (dengan 3x tes), akhirnya Allah menunjukan jalan-NYA. 6 bulan pasca wisuda, bukan waktu yang sebentar untuk sekedar menunggu. Sudah beberapa tes rekrutmen karyawan saya ikuti, tapi hanya saja disana bukan rexeki saya. Sempat ada tawaran bekerja di suatu perusahaan, tapi ternyata posisinya bukan bidang yang saya dalami selama ini. Bukan sebagai orang yang pemilih dalam bekerja, tapi hanya ingin mencari dan berkarir sesuai apa yang dicintai dan sesuai dengan apa yang telah didalami selama Pendidikan.
Alhamdulillah
Allah memberikan jalan-NYA
Ini juga tak lepas dari besarnya kekuatan doa Ibu-Bapak
Keinginan mereka, agar saya bisa berkarir di tanah kelahiran ini
Bekerja/ Berkarir bukan tujuan utama
Tapi ini adalah suatu media untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta
Sebagai pengingat, untuk selalu mengingat segala Nikmat dan Karunia-NYA
Sebagai cara, untuk selalu bisa dekat dengan kedua orang tua
Hidup itu memang harus memilih dan menerima setiap resiko dari apa yang kita pilih
Jika ada teman-teman kita yang bekerja jauh dari keluarga, itu bukanlah kesedihan.
Itu adalah nikmat Allah, yang didalamnya terselip banyak kebaikan- kebaikan yang tak terlihat
Itu adalah jalan
Untuk mencari kebahagiaan-kebahagiaan yang lain
Ikhlash. . . dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini
Itu adalah cara terbaik untuk meraih kebahagiaan
Semangaaat untuk semuanya
Niatkan semua, hidup dan mati hanya untuk Allah SWT. ^^
Langganan:
Postingan (Atom)